Minggu, 29 September 2024
Penggemar Baru
Rabu, 25 September 2024
aku tak sempurna
Minggu, 30 Juni 2024
Alasan untuk Tetap Hidup
Tahu nggak perasaan terburuk itu apa? Perasaan terburuk bukan saat kita merasa sedih, kesel, marah ataupun kecewa. Perasaan terburuk adalah saat tidak peduli dengan apapun, tidak punya motivasi dalam hal apapun. Hal ini dapat berefek pada kehidupan sehari-hari. Memicu indikasi mental, kesedihan yang berkepanjangan, merasa kesepian, kecemasan bahkan depresi.
Penyebab hal tersebut terjadi adalah yang pertama, cause. Itu seperti seorang
yang salah menganalisis penyebab terjadinya peristiwa negative dalam hidupnya.
Umumnya dia menyalahkan sesuatu yang di luar dirinya. Seperti saat seseorang
gagal dalam membuka usaha, karena merasa tidak punya previlage.
Kedua, consequence. Melihat
akan ada konsekuensi negative secara terus menerus. Saat mengalami hal buruk,
umumnya ia akan berpikir pasti akan buruk terus, tidak bisa melihat hikmah dari
masalahnya. Mereka sulit untuk berpikir bahwa hal negative dapat berubah
menjadi negative. Padahal hal negative juga ada akhirnya.
Ketiga, self-image.
Pandangan diri yang negative membuat dirinya selalu membandingkan dengan orang
lain. Karena pandangannya yang selalu negative, maka ia menganggap bahwa semua
kejadian negative adalah dia sebagai penyebabnya. Contohnya sesorang yang
merasa jelek dan tidak berguna. Saat terjadi kejadian buruk, ia mengembalikan
semua kejadian buruknya karena kejelekan dan ketidakbergunanya. Kayak dia
dijauhin orang karena kelemahannya, padahal masih bisa mengusahakan niali diri
yang lain, skill, pendidikan, menawarkan bantuan dan nasehat, dan hal-hal lain
yang masih bisa diusahakan.
Memiliki harapan adalah sesuatu yang baik. Namun harapan
adalah hal yang paling bahaya. Umumnya kita akan mengejar harapan yang kita
inginkan, tapi jika harapan itu tak sampai, kita akan membenci diri, membenci
kehidupan dan kehilangan aalasan hidup. Maka, semakin besar harapanmu, semakin
besar pula potensi putus asanya.
Harapan yang kita punya umumnya tidak hanya satu. Harapan yang
paling kita prioritaskan adalah harapan yang paling kita kejar, paling banyak
tenaga, waktu dan uang untuknya. Bahkan terkadang angan-angan manusia lebih
panjang dari pada usianya. Dan ini adalah sangat berbahaya.
Harapan yang paling besar adalah penggerak yang paling besar
juga. Namun, ketika harapan kita bertumpu pada makhluk yang penuh kekurangan atau
hal lain yang sifatnya temporer, maka itu akan menjadi sumber kekecewaan yang
besar. Maka yang bisa kita lakukan adalah pandai memilih prioritas. Meletakkan harapan
pada yang kekal. Yang nilainya tidak hanya di dunia agar hidup kita punya makna
yang lebih.
Walaupun kita berkali-kali menaruh harap di tempat yang salah, kita terus membuat harapan baru. Walaupun hidupnya hancur, mereka akan bangkit seiring berjalannya waktu. Kapasitas harapan pada manusia sangatlah besar, walaupun seperti tidak menemukan harapan lagi, kenyataannya kita akan menemukan harapan yang baru. Orang-orang yang terus berusaha dan percaya adalah mereka yang beriman. Mereka paham bahwa mereka tak punya kontrol penuh di dunia ini, tapi mereka punya Allah, yang memiliki kuasa atas segala sesuatu. Mereka tidak lagi mengandalkan dirinya sendiri, tapi mengandalkan Allah yang jauh lebih besar dan lebih berkuasa atas segala sesuatu. Meraka paham bahwa takdir dari Allah adalah yang terbaik. Allah tak akan pernah dzalim kepada hamba-Nya. Mereka paham tugas manusia di dunia ini, dan tidak pusing dengan tipu daya dunia. Mereka sadar bahwa seburuk apapun keadaannya, akan selalu ada harapan, yaitu berharap yang terbaik dari Allah.
Sumber: Buku Self Healing karya Ardhi Mohamad
Jumat, 28 Juni 2024
Menjaga Kebersihan Hati
Di tengah kesibukan dunia ini, kita sering melupakan betapa
pentingnya hati. Hati merupakan pusat segala kebaikan dan keburukan seseorang. Jika
hati itu baik, maka apapun yang dikeluarkan akan baik, namun jika hati tidak
baik, maka apapun yang dikeluarkan akan buruk. Sebagaimana Hadits Rasullah yang
berbunyi:
“Ingatlah bahwa di
dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh
jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah
hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Hati kita adalah pusat pandangan Allah. Saat kita melakukan
suatu amalan dengan niat yang baik, maka Allah akan menerimanya, sebaliknya
jika kita melakukan amalan dengan niat buruk, maka Allah akan menolak amalan
tersebut. Oleh karena itu kita perlu memperbaharui niat setiap hari, agar suatu
amalan dilakukan hanya karena Allah. Misalnya bekerja sebagai guru merupakan
pekerjaan yang mulia, namun ada kalanya amalan yang baik tersebut berbelok. Ada
kalanya terlintas dipikiran, mengajar karena butuh pengakuan ataupun niat buruk
lainnya. Karenanya kita perlu memperbaiki niat setiap hari agar suatu amalan
baik tetap terjaga kebaikannya setiap hari.
Hal terbaik yang dikasih Allah kepada manusia adalah iman. Tanpa
iman kita tidak bisa memiliki kebaikan. Iman tersebut terletak di dalam hati. Segala
kebaikan tempatnya di hati. Hati kita sangat penting untuk dijaga. Namun terkadang
kita menyimpan kebencian di hati. Kejelekan orang lain selalu diingat, namun
kebaikannya tidak diingat. Kebencian kita pada seseorang adalah ibarat sampah. Sampah
yang harusnya dikeluarkan. Jika kita masih saja belum bisa memaafkan orang
lain, artinya kita menyimpan sampah yang busuk dalam hati. Jadi mulai sekarang
bilang ke hatimu “cukup sudah saya akan mengeluarkan semua sampah yang ada di
hati saya agar Allah letakkan kekhusukan dalam sholat, iman, cinta dan ikhlas
dalam hati setelah kita membersihkan hati.”
Berlian akan diletakkan pada tempat yang bersih bukan pada
tempat yang kotor. Jika hati kita kotor, maka ilmu yang kita dapatkan akan sering
lupa, sering berbuat dosa, suka berburuk sangka, dendam, iri hati, dan juga
permusuhan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk sellau bermusahabah diri,
meneliti kesalahan dalam diri, dan membersihkan diri. Beberapa cara
membersihkan hati, yaitu:
Mengakui Kesalahan
Setiap manusia, tidak pernah luput dari kesalahan, baik
kesalahan yang disengaja maupun kesalahan yang tidak disengaja. Mengakui kesalahan
merupakan langkah awal untuk membersihkan hati. Jika kita sadar akan kesalahan
yang kita lakukan, maka mudah bagi kita untuk bertaubat.
Menyesali kesalahan
Jika kita telah mengakui kesalahan yang telah diperbuat,
tahap selanjutnya adalah menyesalinya. Menyesal agar tidak mengulangi kembali
kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.
Memohon Ampun kepada
Allah
Allah adalah Maha Pengampun. Sebesar apapun dosa kita, Allah
akan mengampuni dosa kita. Setelah mengakui dan menyesali kesalahan, kita harusnya
bisa bertaubat kepada Allah dengan memperbanyak istighfar. Hal ini sesuai
dengan hadits Rasulullah yang berbunyi:
“Tidak ada dosa yang
besar dengan istighfar, dan tidak ada dosa yang kecil kalau diulang-ulang.”
(HR. Thabrani)
Berjanji tidak
mengulangi
Berjanji tidak mengulangi kesalahan perlu dilakukan dengan
hati yang tulus. Dosa kecil yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi dosa
besar.
Memperbanyak amalan
untuk menutupi dosa
Tanda seseorang yang bersungguh-sungguh dalam bertaubat
adalah dengan memperbanyak amalan baik untuk menebus dosa-dosa yang telah
dilakukan.
Itulah beberapa tips untuk membersihkan hati. Semoga Allah
memudahkan kita untuk menjaga hati kita agar mudah mendapatkan Ridho dari
Allah.
Kamis, 27 Juni 2024
Be The Best Version of You
Allah menciptakan sesuatu selalu ada maksud dan tujuan. Allah tak pernah menciptakan produk gagal. Termasuk juga menciptakan manusia. Sebagaimana Allah berfirman bahwa:
"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya" (QS. At-Tin: 4)
Seringnya kita merasa insecure dengan diri sendiri. Menganggap bahwa diri sendiri memiliki banyak kelemahan. Sedangkan kelebihannya tidak ada. Padahal Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Jika kita tak percaya sama firman Allah, maka kepada siapa lagi kita mau percaya?
Dalam sebuah hadits Qudsi dari Abu Hurairah Radhitallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Allah berfirman sebagai berikut:”Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkan keburukan.” (H.R.Tabrani dan Ibnu Hibban).”
Dari hadits diatas kita tau bahwa Allah sesuai dengan prasangka hambanya. Jika kita mengecilkan diri sendiri, maka kita akan beneran jadi kecil. Padahal Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan yang luar biasa.
Setiap diri kita memiliki peran yang luar biasa dalam hidup. Kita tidak boleh mengecilkan peran kita. Salah satu contoh mengecilkan peran adalah saat ada peluang berbuat baik, kemudian kita berkata "kayaknya itu bukan tugasku. Aku mah apa, biar orang lain aja yang mengerjakan. " Padahal tidak ada peran yang kecil. Semua peran adalah penting. Setiap manusia akan bertemu dengan perannya masing-masing. Tugas kita adalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Tidak ada peran yang kecil, yang ada adalah memaksimalkan peran kita. Terdapat beberapa cara untuk menjadi best version of you, yaitu:
Menjaga Niat
Saat kita melakukan aktivitas, kita harus menyadari sepenuhnya apa yang kita kerjakan. Memahami seutuhnya niat dibalik aktivitas yang sedang dilakukan. Melakukan sesuatu hanya karena Allah karena apapun yang kita lakukan jika niatnya bukan karena Allah akan sia-sia.
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya." (HR Bukhari Muslim)
Berani Bermimpi Besar
Allah menyukai orang yang optimis. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha. Jika hari ini belum bisa, tidak apa-apa. Masih ada hari esok untuk berusaha.
Tak henti belajar
Islam sangat meninggikan orang yang berilmu, karena orang yang berilmu akan banyak manfaatnya. Dengan belajar kita akan memahami banyak hal yang bisa digunakan sebagai bekal dalam kehidupan dan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan hidup.
Berusaha melakukan sebaik-baiknya
Salah satu ciri-ciri seorang muslim adalah bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk Allah. Ketika sudah dipilih Allah dalam suatu peran, jalani dengan sebaik-baiknya.
Ingat apresiasi dari Allah bukan dari manusia
Apresiasi dari Allah adalah yang terbaik. Saat kita menginginkan apresiasi dari manusia, maka kita akan kecewa. Orang luar biasa adalah orang yang melakukan peran dengan baik tanpa peduli dengan apresiasi dari manusia.
Produktif
Allah berfirman dalam surah Al-insyirah ayat tujuh, yang berbunyi:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ
"Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)" (QS. Asy-Syarh:7)
Tekad yang Kuat
Saat kita memiliki keinginan baik, maka bulatkan tekad dan terus bertawakal kepada Allah.
Manajemen Waktu
Waktu ibarat pedang, jika tak disibukkan oleh kebaikan, maka kejahatan yang akan menebasnya. Begitu berharganya waktu yang kita miliki. Oleh karena itu kita harus pandai mengatur waktu yang kita miliki agar tidak sia-sia.
Mendekatkan diri pada Al-Quran
Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia. Jika kita mendekatkan diri pada Al-Quran, maka hidup kita akan lebih terarah.
Itulah beberapa tips untuk menjadi the best version of you. Semoga Allah selalu memudahkan kita dalam kebaikan.
Rabu, 26 Juni 2024
Berdamai dengan Inner Child
Kita sering merasa dituntut selalu menjadi baik, dilarang menanngis, nggak boleh berubah, dikasih banyak tuntutan, dibanding-bandingkan dengan anak yang lain. Kita dituntut menjadi swmpurna sejak kecil. Dari situ kita jadi memupuk harapan menjadi kebanggaan orang tua, berharap diterima masyarakat sosial dan lain sebagainya.
Efeknya saat dewasa merasa nggak bisa percaya diri, cenderung menutup diri, merasa tidak berharga, gampang nyerah, dan lain-lain. Pola asuh orangtua berpengaruh besar terhadap diri kita saat ini.
Seseorang orang yang memiliki penilaian diri baik, kemungkinan dibesarkan oleh orang tua yang mendengar, menyayangi secara utuh, dan emosinya diterima. Mereka juga punya rasa kepercayaan diri yang besar karena yakin dunia akan memperlakukannya dengan baik. Mereka tidak takut untuk bermimpi. Sebaliknya orang yang menutup diri, banyak takutnya, dibesarkan dalam pola asuh yang jarang didengar dan emosinya tidak penting.
Orang tua harusnya sayang dengan kita tanpa syarat. Orang yang pertama memvalidasi perasaan kita. Jika diteruskan, maka banyak sekali kesalahan orang tua kepada kita, tapi buat apa?
Menyalahkan orang tua tidak menjadi solusi. Namun menambah kemarahan, keputusasaan dan penyesalan.
Tidak ada orang tua yang sempurna, karena mereka juga manusia. Yang dibutuhkan adalah saling memahami dan mencari jalan keluar.
Kita harus memahami terlebih dahulu untuk bisa menerima luka masa kecil. Seperti saat kita sudah mengantri lama, ternyata ada yang menyerobot antrian. Ada rasa marah dalam diri, tapi jika kita tahu alasannya seperti, anaknya sedang sakit di rumah, mungkin kita bisa sedikit memaklumi. Contoh lainnya saat gagal dalam suatu hal, kita merasa nggak terima tapi kalau kita tau hikmahnya, maka kita bisa menerima kegagalan tersebut. Jadi kita perlu memahami alasan di balik sesuatu untuk mulai merimanya.
Dengan kita memahami masalah orang tua kita, maka kita akan lebih mudah menerimanya. Misalkan orangtua juga nerasa kesulitan, tapi mereka udah berusaha maksimal. Atau mereka tidak bermaksud menyakiti hati kita, tapi caranya yang kurang tepat.
Orang tua kita juga adalah produksi dari orang tua mereka yang juga tidak sempurna. Mereka juga korban seperti kita, mereka sudah berusaha yang terbaik untuk kita.
Banyak hal yang sudah mereka lakukan untuk kita. Merka sudah sabar memeberi makan kita, memebersihkan kotoran kita, mengorbankan istirahat mereka dan lain sebagainya. Nggak akan ada yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan mereka sejak kecil.
Kita harus menerima dan memahami, bahwa masa kecil kita hanyalah bagian dari hidup kita. Kita masih punya kendali akan jadi orang seperti apa esok hari. Sudah banyak orang dwngan amsa kecil yang hancur. Tetapi bisa berpikir positif. Menjadikan masa kecilnya sebagai pelajaran dan tidak mengungkit masa lalunya. Mereka bisa bangkit membentuk masa depan menjadi orang terbaik walau masa kecilnya buruk. Dengan penerimaan, kita bisa bangkit dan bisa mengurus hal yang lebih penting untuk masa depan.
Kita juga harus menyadari bahwa kita juga anak yang nggak sempurna. Kita juga pernah membuat orang tua kita kesusahan. Jadi mengapa kita menuntut orang tua yang harus sempurna? Sejahat apapun orang tua, kita wajib menghormati nya. Karena perintah dari Allah, kita disuruh patuh dengan orang tua. Tidak ada cara lain selain sami'na wa atho'na dengan perintah Allah.
Semoga Allah mudahkan kita untuk selalu menyayangi dan menghormati orangtua serta memaafkan segala kesalahannya.
Sumber: dirangkum dari buku self healing karya Ardhi Muhammad
Selasa, 25 Juni 2024
Belajar Tegar dari Siti Hajar
![]() |
| Padang Pasir. Pinterest.com |
Siti Hajar wanita tegar yang shalihah. Taat dengan segala perintah Allah. Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung.
Kisah ketegaran Siti Hajar berawal dari Nabi Ibrahim yang menikah dengan Siti Sarah. Nabi Ibrahim adalah sosok yang hanif, baik, terpuji dan lain-lain. Setiap orang yang diperlakukan dengan baik, pasti akan ada dorongan untuk berbuat baik pula. Siti Sarah paham bahwa Nabi Ibrahim membutuhkan sosok penerus Nabi Ibrahim yang bisa meneruskan peejuangan beliau untuk berdakwah, menyebatkan agama Islam. Namun sayangnya Allah belum mengizinkan Siti Sarah untuk hamil. Hingga akhirnya ia berpikiran bahwa Nabi Ibrahim harus menikah lagi untuk memperoleh keturunan. Beliau mencarikan perempuan yang baik dan sholihah untuk suaminya. Akhirnya beliau memilih budaknya, Siti Hajar untuk menikah dengan suaminya. Siti Sarah memilih Siti Hajar karena beliau sudah tau seluk beluk kebaikan Siti Hajar.
Setelah Siti Hajar menikah dengan Nabi Ibrahim, tak lama kemudian Siti Hajar hamil. Perhatian Nabi Ibrahim menjadi semakin intens kepada Siti Hajar. Hal ini membuat Siti Sarah cemburu. Dengan kebijakan Nabi Ibrahim beliau memahami kecemburuan Siti Sarah. Setelah Siti Hajar melahirkan anaknya, Nabi Ibrahim mendapat petunjuk dari Allah. Dari petunjuk Allah, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar ke padang rumput yang tandus. Saat Siti Hajar ditinggal, beliau bertanya kepada Nabi Ibrahim "kenapa aku ditunggal disini? " Hal tersebut membuat hati Nabi Ibrahim sangat berat meninggalkan. Saking beratnya, Nabi Ibrahim tidak menjawwbnya. Hongga Siti Hajar bertanya kembali "apakah ini perintah dari Allah? " Saat Nabi Ibrahim menjawab "ya ini perintah dari Allah." Siti Hajar patuh dan taat. Beliau berkata "baiklah jika ini perintah dari Allah, pergilah. " Saat itu Siti Hajar membawa bekal seadanya. Saat perbekalannya habis, ia baru sadar bahwa tidak ada sumber air di tempat teesebut. Air susu ibu siti Hajar kering. Tidak ada ASI yang keluar. Beliau terus berlari dari sofa ke marwah mencari sumber air. Siti Hajar paham konsep ikhtiar adalah bukti bahwa kita membutuhkan Allah. Bukan ikhtiar yang memberi hasil, tapi seriusnya ikhtiar yang mendatangkan pertolongan Allah. Bukan tentang tindakan yang dilakukan oleh siti hajar, namun ruh dibalik tindakannya. Setelah Siti Hajar berusaha lari dari sofa ke marwah sebanyak tujuh kali, laku air mata keluar dari hentakan kaki nabi ismail. Lari-lari siti Hajar adalah bukti bahwa ia membutuhkan pertolongan, sedangkan air yang muncul dari mana saja sumbernya adalah hak prerogatif Allah. Dari Siti Hajar Allah menguji kebergantungan apkah kepada Allah atau suami. Teenyata beliau bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Singkat cerita, saat Nabi Ismail telah menjadi seorang pemuda, beliau bertemu dengan ayahnya. Walau Nabi Ismail tidak pernah bertemu ayahnya sebelumnya, beliau sangat ta'dzim dengan ayahnya. Hal ini terjadi karena didikan Siti Hajar yang mampu menjaga sikap dan lisannya.
Saat Nabi Ibrahim bertemu dengan Nabi Ismail, beliau berdialog tentang mimpinya. "Hai Ismail bagaimana pendapatmu jika Allah menyuruhku untuk menyembelihmu? " Ismail adalah seorang pemuda yang sangat taat kepada Allah. Saat ditanyai dengan pertanyaan seperti itu, Nabi Ismail menjawab "kalau itu perintah Allah, lakukan ayah".
Dari cerita diatas, dapat kita ambil hikmah bahwa Siti Hajar bisa setegar itu karena bergantung sepenuhnya kepada Allah. Tidak pernah menjelek-jelekkan ayah Nabi Ismail, hingga anaknya sangat ta'dzim kepada Nabi Ibrahim. Padahal Nabi Ibrahim telah meninggalkan mereka pada padang pasir yang tandus dan dalam waktu yang sangat lama. Semoga kita dapat meneladani ketegaran Siti Hajar dalam menghadapi ujian dari Allah.





